Kuli di Negara Sendiri…

01/11/2013 § Leave a comment

ImageNegara kita, Bangsa kita telah terlalu lama menjadi bangsa jajahan, telah terlalu lama menjadi bangsa “kuli”, telah terlalu lama “mental”-nya menjadi mental kuli. Hal ini menjadi suatu hal yang ironis, ketika BANGSA ini telah merdeka, tapi praktek-praktek jaman kolonial ketika penjajahan tetap dipakai oleh “Tuan-tuan” di negara ini. Mereka telah lupa diri dan telah berubah menjadi tuan-tuan dari saudara mereka sendiri.

Saat ini banyak dari kaum BURUH yang menjadi kuli di tanah sendiri, dengan Peraturan PEMERINTAH yang mendukung kaum Kapitalis yang memiliki modal dan kurang membela hak-hak buruh. Hal ini harus menjadi pemikiran tersendiri, karena kaum buruh pun yang mengerakan perekonomian bangsa ini.

Dahulu memang bangsa kita telah menjadi kuli bagi bangsa Belanda, tapi bukan berarti bahwa rakyat kita harus selalu menjadi kuli di negara sendiri, yang harus diubah harusnya adalah PEMERINTAH, mereka tetap menjadi kuli juga, karena mereka tetap memiliki “mental” kuli, kuli Bangsa Asing, Bangsa Kapitalis, sehingga mereka “meng-kuli-kan” bangsa sendiri.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/04/kisah-tak-terperi-kuli-hindia-belanda

Sejatinya, soal penderitaan negeri jajahan, rakyat Belanda dikejutkan dua kali. Kejutan pertama, ketika novel Max Havelaar karya Multatuli diterbitkan pada 1860, yang berkisah penderitaan petani Lebak masa cultuurstelsel¬—tanam paksa. Karya Multatuli itu kelak menginspirasi adanya politik balas budi Belanda.

Kejutan kedua, pada 1902—dua dekade usai tanam paksa. Johannes van den Brand menerbitkan tulisannya De Millionen uit Deli yang menuturkan berjuta-juta gulden yang disedot para pemilik perkebunan besar di Deli.

Usai penghapusan tanam paksa pada 1870, Hindia Belanda dibanjiri penanam modal swasta dari Eropa. Awalnya perkebunan-perkebunan besar di Sumatra Timur mendatangkan kuli dari daerah Bagelen di Jawa Tengah. Namun, lantaran tak mencukupi permintaan, mereka mendatangkan juga kuli dari daratan Cina.

Brand, yang juga seorang pengacara di Karesidenan Sumatra Timur, bersaksi atas penerapan berbagai kasus penerapan ordonansi kuli, khususnya kekejian dalam menghukum kuli. Dia melihat dari sisi moral soal tujuan ordonansi kuli yang pada akhirnya hanya mencegah kuli-kuli membatalkan kontrak mereka. Sekali dipekerjakan di perkebunan, dapat dipastikan tak mungkin bisa melarikan diri.

Hampir tiga dasawarsa silam, Profesor emeritus Jan Breman, seorang ahli sosiologi dari University of Amsterdam, mengungkap kembali penderitaan para kuli Sumatra Timur. Dengan semangat van den Brand, dia mengungkap penderitaan kuli sejak penandatanganan kontrak sampai kehidupannya di perkebunan.

Breeman berkisah, selama berlayar, kuli tidak dianggap sebagai penumpang kapal, melainkan sebagai barang atau ternak. Para kuli itu diangkut dalam gerbong tertutup, bahkan ruangan mereka dipenuhi sampah dan kotoran kulit buah-buahan, ludah sirih, dan muntahan mabuk laut.

Kuli perkebunan kerap kena tipu tuan kebunnya soal upah. Breman mengungkap bahwa upah yang dijanjikan dalam kontrak tidak sesuai dengan daya beli di Sumatra Timur. Kuli tidak diberi kebebasan membelanjakan upahnya yang sudah rendah itu.

Banyak tuan kebun menggaji kulinya sebagian dengan uang buatan sendiri berupa kertas bon. Lebih lagi, pernah terjadi seorang majikan menggunting kaleng biskuit menjadi keping-keping bulat pipih, menuliskan angka-angka di atasnya, dan membayarkannya kepada para kuli Cina. Tentu saja, mata uang kertas bon dan kepingan kaleng biskuit tadi hanya dapat dibelanjakan di kedai perkebunan.

Para kuli kerap menjalani penyiksaan tak terperi, menurut singkapan Breman. Mereka disiksa di tempat terbuka supaya menimbulkan dampak jera kepada kuli-kuli lainnya.

Tak jarang kuli disekap tanpa makan minum, dicambuk, sampai diseret kuda dengan tangan terikat. Banyak juga yang disiksa dan dipukuli dengan daun jelatang lalu disiram air sehingga seluruh tubuh membengkak, hingga ditusuk bagian bawah kukunya dengan pecahan bambu. Itu semua belum cukup memuaskan tuan kebun. Bahkan, kuli perempuan digosok kemaluannya dengan merica halus.

Kuli menjadi sebuah ironi di negerinya sendiri. Breeman berkesimpulan bahwa tindak penyiksaan terhadap para kuli tadi bukanlah suatu kasus yang kebetulan terjadi, melainkan bersifat mengakar lantaran didukung antara tuan kebun dan pemerintah kolonial.

Namun, pastinya kita tidak terlalu bodoh untuk berharap bahwa semoga kepiluan para kuli kontrak tadi tak terulang lagi di dunia yang konon kini lebih beradab.

(Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kuli di Negara Sendiri… at Pembebasan Indonesia.

meta

%d bloggers like this: